Berkah
Kemerdekaan Indonesia
Oleh : Wakhit Nur Ananda
Anak
mana yang setabah Rendra, anak yang sejak umur 12 tahun harus membiayai
hidupnya sendiri. Tiga tahun lalu ayah Rendra harus rela untuk masuk dalam
jeruji besi, karena dia terbukti mencuri handphone. Jhon ayah Rendra terpaksa
mencuri handphone untuk membayar biaya masuk sekolah anaknya Rendra. Jhon harus
masuk dalam penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mau tidak mau
Jhon meninggalkan anak semata wayangnya Rendra. Hukum memang hanya melihat
bahwa ayah Rendra mencuri tidak melihat kenapa ayah Rendra mencuri, hanya
melihat akibat tidak melihat sebab. Rendra yang baru masuk sekolah menengah
pertama harus hidup mandiri karena ayahnya masuk dalam penjara sedangkan Ibunya meninggal saat Rendra baru
ber umur 5 tahun. Sejak saat itu Rendra harus sekolah dan mencari penghasilan
sendiri untuk tetap hidup. Semua orang mengerti dunia anak – anak adalah
bermain dan belajar, bukan bekerja untuk mendapatkan uang. Tetapi skenario
Tuhan menghantarkan Rendra untuk hidup secara mandiri.
Rendra mempunyai teman
yang sangat loyal dengannya yaitu Munif. Munif anak yang mempunyai perawakan
gemuk dan manja, ia adalah anak Pak Lurah. Walaupun anak Pak Lurah yang
notabene anak orang elit didesanya tetapi Munif tidak pilih – pilih teman, ia
malah berteman dengan Rendra anak yang tidak jelas kehidupannya. Kemanapun
Rendra pergi Munif selalu ada disampingnya.
Pagi yang cerah matahari
menyinari bumi dengan welas asihNya, sudah menjadi kebiasaan di pagi hari Munif
menghampiri Rendra dengan sepeda mini miliknya . “Ren...Rendra, berangkat kesekolah
yuk?” Kata Munif yang memanggilnya dari halaman depan rumah. Waktu Munif datang
Rendra masih sibuk dengan rambut ikalnya “Iya Nif, sebentar ya”. Didepan kaca
kesayangan walaupun ukurannya hanya 30 cm kali 20 cm. Kaca itu di tempelkan di
dinding bambu pas di sebelah foto kedua orang tuanya. Rendra lalu keluar
menhampiri Munif dengan seragam putih biru khas anak sekolah menengah pertama.
Seragamnya kusut, putih yang semu kekuning – kuningan sepertinya memang tidak
pernah di setrika. Boro – boro beli dan pakai mesin setrika, untuk makan saja
Rendra susah. Lantas mereka berdua berangkat ke sekolah bersama, berboncengan
dengan sepada mini warna pink kesukaan Munif.
Suatu waktu di kantin sekolah
Rendra di ejek teman – teman nya karena anak narapidana “Hallo, anak penjahat”
kata teman – temannya. Munif yang teman loyal Rendra membelanya, semua teman –
teman Rendra yang mengejek berganti di marahi oleh Munif “Hai, kalian ini
kenapa sih bukannya kasihan dengan Rendra malah merundung dia, kalian punya
hati tidak sih!”. Setelah kejadian itu Munif memberi semangat, memotivasi dan
dorongan agar Rendra tidak sedih dengan apa yang dikatakan teman – teman
kepadanya.
“Ren tidak usah sedih ya, mereka
memang suka begitu”.
“Aku tidak papa kok Nif, Aku memang
anak seorang penjahat!”.
“Kamu jangan gitu Ren, nanti jika ada yang ngatain kamu lagi bilang
aku ya biar aku kasih pelajaran mereka!”.
“Halah gaya kamu Nif, emangnya kamu
berani dengan mereka semua”. Rendra sudah mulai memperlihatkan wajah senyumnya.
“Ya berani lah, demi temen apa saja
akan aku lakuin kok”.
“Haha...., Aku kan sudah biasa di
gitukan. Nanti mereka juga diam sendiri ayo kembali ke kelas”.
Sepertinya Rendra sudah
tidak perduli dengan perkataan teman – teman nya, karena sudah terbiasa.
Sesuatu yang dulu menyakitkan sekarang sudah biasa karena biasa di ucapkan
berkali – kali. Seperti cinta jika di ucapkan oleh lisan berkali – kali sudah
kehilangan makna.
Sang surya pengayom bumi
dengan cinta dan kasih sayangNya sudah condong ke arah barat.
“Tet..........tet.......tet.......tet”, Suara yang menandakan bel pulang sekolah. Rendra memang
anak yang hebat dia tekun dalam bidang apapun. Apapun pekerjaan yang diberikan
kepada Rendra pasti dia mau, asalkan itu baik. Rendra sering di beri pekerjaan
oleh Pak Lurah ayah Munif untuk membersihkan halaman rumah Pak Lurah, dan
terkadang juga membantu mengembala kambing miliknya. Seperti biasa ia tidak
lantas pulang ke rumah bertembok bambu pribadinya, tetapi kerumah Pak lurah
bersama Munif.
Seperti biasa setelah
pulang sekolah ia mengembala kambing milik Pak Lurah di pemakaman. Rendra duduk
di bawah pohon trembesi yang dapat meneduhkan fisik kecilnya itu. Kambingnya
sibuk makan rumput hijau, ia sibuk dengan buku – buku sekolahnya. Teman – teman
Rendra lewat pemakaman untuk pergi ke lapangan desa. Karena tahu Rendra ada di
bawah pohon trembesi itu lantas teman – temannya mengahampiri untuk bermain
sepakbola di lapangan dengannya. “Sepertinya itu Rendra, kita ajak main sepak
bola yuk” Kata Munif yang ikut dengan rombongan anak – anak yang mau bermain
sepak bola itu. “Ren, ayo ikut kita main bola” kata salah satu temannya. Rendra
yang sedang membaca buku kaget karena ternyata sudah ada banyak orang di
sekelilingnya. “Eh.. gimana ya , Aku sedang mengembala kambing milik Ayah
Munif” Kata Rendra. “Ayo lah Ren, kali ini saja kita main bareng kita simulasi
untuk lomba sepak bola antar anak – anak yang di adakan Pak Lurah dalam
menyambut 17 Agustus hari kemerdekaan Indonesia”. Semua teman – temannya merayu
Rendra agar mau untuk ikut bermain sepak bola. Dengan rayuan – rayuan pamungkas
itu akhirnya Rendra mengiyakan. Rendra meninggal kan kambing – kambing milik
Pak Lurah tanpa di tali terlebih dahulu.
Lembayung senja sudah
mulai terlihat, Rendra terlalu asik bermain sepak bola sampai lupa ia mempunyai
tanggung jawab mengembala kambing. Setelah selesai bermain sepak bola ia baru
teringat dengan kambing – kambing nya, lantas ia lari kembali ke pemakaman. Apa
mau dikata semua kambing Pak Lurah sudah tidak ada, Rendra yang takut di marahi
oleh Pak Lurah tidak berani untuk pulang. Akhirnya Rendra tidur di pemakaman
itu sendiri dengan air mata kekesalan “Ya allah betapa lalainya diri ku”.
Tak terasa karena tertidur
hari sudah mulai pagi, Rendra dibangunkan oleh Pak Lurah yang sudah mencari
Rendra semalam suntuk. “Ren...Rendra, bangun ternyata kamu disini toh dari
semalam Bapak nyariin kamu loh?”. “E.....eee Pak Lurah, Maaf Pak kambing Bapak
hilang” Rendra memohon maaf kepada Pak Lurah karena menghilangkan kambingnya.
“Kata siapa kambing Bapak hilang, Kambingnya ada di rumah kok. Kalau kamu tidak
percaya coba cek dirumah Bapak”. Ternyata kegelisahan Rendra terbayar, semua
kambing Pak lurah pulang dengan sendirinya. “Kamu pulang sana, ada yang
menunggu mu di rumah” kata Pak Lurah. “Siapa Pak? Mana ada yang menunggu Saya?”
Rendra keheranan. “Yang penting nak Rendra pulang dulu”. Dengan hati yang
bertanya – tanya Rendra pulang dengan Pak Lurah kerumah.
Setelah sampai di rumah
dia disambut oleh seorang laki – laki dewasa yang ternyata adalah Ayahnya
“Rendra, Ayah sudah pulang”. Dengan wajah tidak percaya Rendra bergumam “Apakah
aku masih bermimpi?,ah tidak ini bukan mimpi”. Mereka lalu berpelukan dan saling
bertukar rasa. Tidak ada kata yang bisa mewakili kerinduan seorang ayah kepada
anaknya. Ayah Rendra mendapat remisi atas Hari Kemerdekaan Indonesia dan
dinyatakan bebas. 17 Agustus 1945 adalah hari dimana Bapak proklamator Ir.Sukarno
dan Moh.Hatta mengumandangkan kemerdekaan sebuah bangsa, bangsa itu diberi nama
Indonesia. Indonesia adalah bangsa yang sangat kaya karena terdiri dari bangsa
– bangsa di kawasan Nusantara. Pembacaan teks proklamasi 75 tahun yang lalu
itu, ternyata mempunyai pengaruh terhadap masa sekarang. Rendra mengibarat kan
apa yang dilakukan oleh founding of
father (pendiri bangsa) adalah seperti menanam pohon jati, bukan untuk
dirinya tetapi untuk anak cucunya. Pohon jati membutuhkan waktu minimal 15
tahun untuk siap digunakan.
Grobogan, 12 Agustus 2020
