Cerpen Wakhit Nur Ananda Kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 2020)

Berkah Kemerdekaan Indonesia

Oleh : Wakhit Nur Ananda

            Anak mana yang setabah Rendra, anak yang sejak umur 12 tahun harus membiayai hidupnya sendiri. Tiga tahun lalu ayah Rendra harus rela untuk masuk dalam jeruji besi, karena dia terbukti mencuri handphone. Jhon ayah Rendra terpaksa mencuri handphone untuk membayar biaya masuk sekolah anaknya Rendra. Jhon harus masuk dalam penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mau tidak mau Jhon meninggalkan anak semata wayangnya Rendra. Hukum memang hanya melihat bahwa ayah Rendra mencuri tidak melihat kenapa ayah Rendra mencuri, hanya melihat akibat tidak melihat sebab. Rendra yang baru masuk sekolah menengah pertama harus hidup mandiri karena ayahnya masuk dalam penjara  sedangkan Ibunya meninggal saat Rendra baru ber umur 5 tahun. Sejak saat itu Rendra harus sekolah dan mencari penghasilan sendiri untuk tetap hidup. Semua orang mengerti dunia anak – anak adalah bermain dan belajar, bukan bekerja untuk mendapatkan uang. Tetapi skenario Tuhan menghantarkan Rendra untuk hidup secara mandiri.

Rendra mempunyai teman yang sangat loyal dengannya yaitu Munif. Munif anak yang mempunyai perawakan gemuk dan manja, ia adalah anak Pak Lurah. Walaupun anak Pak Lurah yang notabene anak orang elit didesanya tetapi Munif tidak pilih – pilih teman, ia malah berteman dengan Rendra anak yang tidak jelas kehidupannya. Kemanapun Rendra pergi Munif selalu ada disampingnya.

Pagi yang cerah matahari menyinari bumi dengan welas asihNya, sudah menjadi kebiasaan di pagi hari Munif menghampiri Rendra dengan sepeda mini miliknya . “Ren...Rendra, berangkat kesekolah yuk?” Kata Munif yang memanggilnya dari halaman depan rumah. Waktu Munif datang Rendra masih sibuk dengan rambut ikalnya “Iya Nif, sebentar ya”. Didepan kaca kesayangan walaupun ukurannya hanya 30 cm kali 20 cm. Kaca itu di tempelkan di dinding bambu pas di sebelah foto kedua orang tuanya. Rendra lalu keluar menhampiri Munif dengan seragam putih biru khas anak sekolah menengah pertama. Seragamnya kusut, putih yang semu kekuning – kuningan sepertinya memang tidak pernah di setrika. Boro – boro beli dan pakai mesin setrika, untuk makan saja Rendra susah. Lantas mereka berdua berangkat ke sekolah bersama, berboncengan dengan sepada mini warna pink kesukaan Munif.

Suatu waktu di kantin sekolah Rendra di ejek teman – teman nya karena anak narapidana “Hallo, anak penjahat” kata teman – temannya. Munif yang teman loyal Rendra membelanya, semua teman – teman Rendra yang mengejek berganti di marahi oleh Munif “Hai, kalian ini kenapa sih bukannya kasihan dengan Rendra malah merundung dia, kalian punya hati tidak sih!”. Setelah kejadian itu Munif memberi semangat, memotivasi dan dorongan agar Rendra tidak sedih dengan apa yang dikatakan teman – teman kepadanya.

“Ren tidak usah sedih ya, mereka memang suka begitu”.

“Aku tidak papa kok Nif, Aku memang anak seorang penjahat!”.

“Kamu jangan gitu Ren,  nanti jika ada yang ngatain kamu lagi bilang aku ya biar aku kasih pelajaran mereka!”.

“Halah gaya kamu Nif, emangnya kamu berani dengan mereka semua”. Rendra sudah mulai memperlihatkan wajah senyumnya.

“Ya berani lah, demi temen apa saja akan aku lakuin kok”.

“Haha...., Aku kan sudah biasa di gitukan. Nanti mereka juga diam sendiri ayo kembali ke kelas”.           

Sepertinya Rendra sudah tidak perduli dengan perkataan teman – teman nya, karena sudah terbiasa. Sesuatu yang dulu menyakitkan sekarang sudah biasa karena biasa di ucapkan berkali – kali. Seperti cinta jika di ucapkan oleh lisan berkali – kali sudah kehilangan makna.

Sang surya pengayom bumi dengan cinta dan kasih sayangNya sudah condong ke arah barat. “Tet..........tet.......tet.......tet”, Suara yang  menandakan bel pulang sekolah. Rendra memang anak yang hebat dia tekun dalam bidang apapun. Apapun pekerjaan yang diberikan kepada Rendra pasti dia mau, asalkan itu baik. Rendra sering di beri pekerjaan oleh Pak Lurah ayah Munif untuk membersihkan halaman rumah Pak Lurah, dan terkadang juga membantu mengembala kambing miliknya. Seperti biasa ia tidak lantas pulang ke rumah bertembok bambu pribadinya, tetapi kerumah Pak lurah bersama Munif.

Seperti biasa setelah pulang sekolah ia mengembala kambing milik Pak Lurah di pemakaman. Rendra duduk di bawah pohon trembesi yang dapat meneduhkan fisik kecilnya itu. Kambingnya sibuk makan rumput hijau, ia sibuk dengan buku – buku sekolahnya. Teman – teman Rendra lewat pemakaman untuk pergi ke lapangan desa. Karena tahu Rendra ada di bawah pohon trembesi itu lantas teman – temannya mengahampiri untuk bermain sepakbola di lapangan dengannya. “Sepertinya itu Rendra, kita ajak main sepak bola yuk” Kata Munif yang ikut dengan rombongan anak – anak yang mau bermain sepak bola itu. “Ren, ayo ikut kita main bola” kata salah satu temannya. Rendra yang sedang membaca buku kaget karena ternyata sudah ada banyak orang di sekelilingnya. “Eh.. gimana ya , Aku sedang mengembala kambing milik Ayah Munif” Kata Rendra. “Ayo lah Ren, kali ini saja kita main bareng kita simulasi untuk lomba sepak bola antar anak – anak yang di adakan Pak Lurah dalam menyambut 17 Agustus hari kemerdekaan Indonesia”. Semua teman – temannya merayu Rendra agar mau untuk ikut bermain sepak bola. Dengan rayuan – rayuan pamungkas itu akhirnya Rendra mengiyakan. Rendra meninggal kan kambing – kambing milik Pak Lurah tanpa di tali terlebih dahulu.

Lembayung senja sudah mulai terlihat, Rendra terlalu asik bermain sepak bola sampai lupa ia mempunyai tanggung jawab mengembala kambing. Setelah selesai bermain sepak bola ia baru teringat dengan kambing – kambing nya, lantas ia lari kembali ke pemakaman. Apa mau dikata semua kambing Pak Lurah sudah tidak ada, Rendra yang takut di marahi oleh Pak Lurah tidak berani untuk pulang. Akhirnya Rendra tidur di pemakaman itu sendiri dengan air mata kekesalan “Ya allah betapa lalainya diri ku”.

Tak terasa karena tertidur hari sudah mulai pagi, Rendra dibangunkan oleh Pak Lurah yang sudah mencari Rendra semalam suntuk. “Ren...Rendra, bangun ternyata kamu disini toh dari semalam Bapak nyariin kamu loh?”. “E.....eee Pak Lurah, Maaf Pak kambing Bapak hilang” Rendra memohon maaf kepada Pak Lurah karena menghilangkan kambingnya. “Kata siapa kambing Bapak hilang, Kambingnya ada di rumah kok. Kalau kamu tidak percaya coba cek dirumah Bapak”. Ternyata kegelisahan Rendra terbayar, semua kambing Pak lurah pulang dengan sendirinya. “Kamu pulang sana, ada yang menunggu mu di rumah” kata Pak Lurah. “Siapa Pak? Mana ada yang menunggu Saya?” Rendra keheranan. “Yang penting nak Rendra pulang dulu”. Dengan hati yang bertanya – tanya Rendra pulang dengan Pak Lurah kerumah.

Setelah sampai di rumah dia disambut oleh seorang laki – laki dewasa yang ternyata adalah Ayahnya “Rendra, Ayah sudah pulang”. Dengan wajah tidak percaya Rendra bergumam “Apakah aku masih bermimpi?,ah tidak ini bukan mimpi”. Mereka lalu berpelukan dan saling bertukar rasa. Tidak ada kata yang bisa mewakili kerinduan seorang ayah kepada anaknya. Ayah Rendra mendapat remisi atas Hari Kemerdekaan Indonesia dan dinyatakan bebas. 17 Agustus 1945 adalah hari dimana Bapak proklamator Ir.Sukarno dan Moh.Hatta mengumandangkan kemerdekaan sebuah bangsa, bangsa itu diberi nama Indonesia. Indonesia adalah bangsa yang sangat kaya karena terdiri dari bangsa – bangsa di kawasan Nusantara. Pembacaan teks proklamasi 75 tahun yang lalu itu, ternyata mempunyai pengaruh terhadap masa sekarang. Rendra mengibarat kan apa yang dilakukan oleh founding of father (pendiri bangsa) adalah seperti menanam pohon jati, bukan untuk dirinya tetapi untuk anak cucunya. Pohon jati membutuhkan waktu minimal 15 tahun untuk siap digunakan.

             

 

 

 

 

Grobogan, 12 Agustus 2020


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »