Cerpen Brouwnies dan Harga Diri | Wakhit Nur Ananda


 

BROWNIES dan HARGA DIRI

Oleh:Wakhit Nur Ananda

Dinegeri Rendra tinggal, harga diri lebih tidak penting dari pada materialisme. Mereka lebih memilih makan kenyang dari pada menjunjung tata nilai. Sampai ada niaga dimana yang dijual bukan makanan kue brownies tetapi manusia. Rendra ingin mengubah semua yang terjadi dinegeri Rendra secara fundamental. Menjunjung tata nilai ke langit dan menyebarkannya ke bumi dengan cinta dan kasih sayang hujan bulan juli.

Rendra sekarang berprofesi sebagai penjual cilok dan kue brownies. Dua tahun yang lalu ia menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking) yang dipekerjakan sebagai pencari ikan. Ketidak tepatan penataan dalam mengurus sebuah negara membuat Rendra sulit untuk mendapatkan sebuah pekerjaan di negerinya, Rendra harus pergi ke manca negara untuk mendapat kan pekerjaan dan banyak uang.

Sebelum Rendra berangkat keluar negeri Ia harus membayar kepada calo sebesar 50 juta, itupun hasil jual tanah warisan orang tuanya. Rendra dijanjikan pekerjaan yang enak dan gaji yang “wah” (besar). Rendra yang hanya orang desa dan tamatan sekolah dasar dengan mudah luluh oleh bujuk rayu para agen - agen ilegal. Tetapi sayang ekspektasi tidak seperti realita, apa yang Rendra bayangkan runtuh saat dia dipertemukan dengan para pengusaha – pengusaha  kapal pencari ikan manca negara.

Rendra di eksploitasi untuk melakukan pekerjaan kasar di kapal. Setiap hari Rendra diperlakukan tidak manusiawi dengan hampir bekerja selama 23 jam. Rendra selalu di intimidasi oleh para kru kapal dan yang lebih parahnya Rendra tidak pernah digaji. Karena sudah tidak betah untuk tetap dikapal Rendra memutuskan untuk lari dengan terjun ke laut.

Hampir tujuh jam Rendra terombang – ambing dilaut, alhamdulillahnya Rendra di temukan oleh nelayan dinegerinya yang mencari ikan bernama Munif. “Tolong Pak, tolong” Kata Rendra yang sudah lemas tubuhnya. Munif tanpa berfikir panjang langsung menolong manusia yang terombang-ambing dan hanya membawa ban pelampung itu “Masyaallah Pak, ini Pak minum dulu”. Dibawalah Rendra ke daratan agar mendapatkan pertolongan medis. Munif lalu lapor ke kepolisian atas temuannya.

Polisi bertanya kepada Rendra apa yang terjadi dengan dirinya. Semuanya oleh Rendra di ungkapkan kepada polisi tentang intimidasi, eksploitasi yang dialaminnya. Dengan semua yang dikatakan oleh Rendra, polisi secara cepat trakking siapa agen – agen dan kapal yang telah memperdagangkan manusia(human trafficking). Setelah Rendra merasa baik lalu di pulangkan ke desanya.

Kabar seorang ABK yang lari dengan terjun kelaut viral dimedia masa. Semua dukungan diberikan kepada Rendra dan kata salah satu diplomat kepada Rendra adalah “ semua hak – hak nak Rendra (akomodasi dan gaji) akan kami perjuangkan”.

Semua yang terjadi di negeri Rendra tentang ketidak beresan, kesembronoan mengelola negara seperti terjadinya korupsi adalah ketidak percayaan manusia dinegeri Rendra atas rahmat Tuhan. Padahal jika kita bekerja keras sungguh – sunguh, Tuhan tidak akan membiarkan kita kelaparan semua pasti di cukupkan oleh-Nya. Setelah kejadian itu Rendra mengedukasi warga – warga yang ada di sekitarnya untuk tidak bekerja ke luar negeri. Setelah semua hak – hak(akomodasi dan gaji) Rendra diberikan, Rendra memulai usahanya menjual cilok dan kue brownies. Dan dari usahanya itu Rendra sekarang dapat memberikan lapangan pekerjaan kepada warga – warga di sekitar Rendra tanpa harus ke luar negeri. Rendra berharap tidak ada kejadian  human trafficking lagi di negerinya.

 

 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »